Indramayu ; Upaya Penyelamatan Sungai Cimanuk Lama Indramayu yang Dipenuhi Lautan Eceng Gondok


INDRAMAYU - Air tak terlihat mengalir di Sungai Cimanuk Lama di wilayah Bojongsari, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Permukaan sungai tersebut bahkan sudah tak lagi nampak, tertutupi oleh jutaan tanaman eceng gondok yang tumbuh tak terkendali. 

Pantauan Kompas.com saat menyusuri aliran sungai, eceng gondok benar-benar melapisi setiap jengkal permukaan Sungai Cimanuk Lama. Tak ada celah bagi air di sungai ini untuk terlihat karena rapatnya pertumbuhan gulma tersebut. 

“Memang seperti ini kondisinya, sudah lama kaya gini, pernah dibersihkan tapi ya muncul lagi,” kata Selamet Hidayat (48), salah satu warga yang tinggal di bantaran Sungai Cimanuk Lama kepada Kompas.com, Rabu (12/8/2026).

Selain menghambat aliran air, kondisi ini juga mengganggu pemandangan. Padahal ada beberapa pedagang yang sengaja membuka lapak memanfaatkan lokasi bantaran sungai untuk berjualan.

Mereka sengaja menyediakan tempat duduk di pinggir sungai agar pelanggan dapat menikmati suasana aliran Sungai Cimanuk Lama. 

“Kaya tetangga saya, dia jualan cilok kuah, sengaja sediain kursi di pinggir sungai, cuma kan sekarang yang terlihat cuma hamparan eceng gondok bukan sungai,” kata Selamet. 

Warga lainnya yang juga tinggal di dekat bantaran sungai, Ririn (43) berpendapat, dampak pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali ini juga menyebabkan munculnya nyamuk-nyamuk.

Ia bahkan mengaku harus selalu menyediakan obat nyamuk oles di rumahnya. "Banyak nyamuk mas, ya tiap harus sedia obat nyamuk, kalau gak mah, ampun nyamuknya,” ujarnya. 

Keluhan warga soal eceng gondok ini pun akhirnya mendapat respons dari Pemerintah Kabupaten Indramayu. Bupati Kerahkan Alat Berat untuk Angkat Eceng Gondok Bupati Indramayu Lucky Hakim mengaku telah mengerahkan sejumlah alat berat untuk mengangkat eceng gondok yang memenuhi sejumlah saluran air. Alat berat itu kini tampak tengah bekerja mengangkat satu per satu tumpukan eceng gondok di Sungai Cimanuk Lama di wilayah Bojongsari.

Selain di titik ini, Lucky menyebut, pembersihan juga menyasar saluran pembuangan di aliran Kalentahu, saluran pembuangan Prajagumiwang, hingga saluran pembuangan Brahim di Desa/Kecamatan Sindang. 

“Pengangkatan eceng gondok dilakukan sebagai langkah taktis untuk mengembalikan fungsi saluran pembuang agar dapat mengalirkan air secara optimal, terutama ketika terjadi peningkatan debit air dari wilayah perkotaan Indramayu,” kata Lucky. 

Pemkab Indramayu mengaku memanfaatkan kondisi surutnya sungai di musim kemarau ini untuk mengeksekusi lautan eceng gondok tersebut. Dengan harapan, saat musim hujan tiba, aliran sungai sudah kembali lancar, langkah ini sebagai antisipasi mencegah potensi luapan air yang dapat menyebabkan banjir.

Pada kesempatan itu, Lucky juga mendorong agar masyarakat tidak hanya melihat eceng gondok ini sebagai gulma yang harus dibuang. Menurut dia, tanaman tersebut juga memiliki potensi ekonomi jika dimanfaatkan atau diolah menjadi berbagai produk kerajinan tangan. 

“Kita bersihkan eceng gondok ini agar saluran kembali berfungsi dengan baik. Tetapi setelah diangkat, jangan sampai hanya menjadi limbah. Kalau memungkinkan, eceng gondok ini bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya. 

Hal tersebut diketahui telah dicontohkan oleh warga di sejumlah daerah. Pemkab Indramayu pun dalam hal ini membuka peluang untuk mendukung kreativitas masyarakat yang ingin mengolah eceng gondok tersebut.

“Jadi ada dua manfaat yang kita harapkan. Saluran air menjadi bersih dan lancar, sementara eceng gondok yang diangkat bisa dimanfaatkan untuk produk kerajinan atau kebutuhan lainnya. Ini yang perlu kita pikirkan bersama agar memiliki nilai tambah,” kata Lucky. Di samping itu, Lucky juga meminta kepada jajaran pemerintahnya untuk bergerak cepat dalam merespons keluhan masyarakat mengenai kondisi saluran air.

Ia tidak ingin, penanganan eceng gondok dilakukan secara lambat, jangan sampai lambatnya penanganan memberikan dampak yang lebih besar terhadap aktivitas ekonomi sosial masyarakat. 

“Ini upaya kita untuk menjaga fungsi saluran pembuang sekaligus mengembangkan potensi pemanfaatan sumber daya lingkungan untuk mendukung pencegahan banjir dan peningkatan ekonomi masyarakat,” katanya. 




KOMPAS.com


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama