INDRAMAYU, - Pemandangan berbeda mewarnai Alun-alun Indramayu pada peringatan HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).
Jika biasanya upacara 17 Agustus identik dengan tenda peneduh dan kursi empuk untuk tamu VIP, Bupati Indramayu Lucky Hakim justru mengambil langkah ekstrem. Ia menghapuskan seluruh fasilitas mewah tersebut.
Alhasil, jajaran elite daerah, anggota DPRD, hingga pejabat eselon harus berjemur bersama ribuan warga di bawah terik matahari selama dua jam penuh tanpa sajian makanan maupun minuman dingin.
Langkah tak biasa dari pria berusia 48 tahun itu disebut sebagai upaya meruntuhkan sekat feodalisme di lingkungan pemerintahan.
Mantan aktor layar kaca tersebut bahkan tak segan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para tamu undangan atas ketiadaan fasilitas peneduh tersebut.
"Saya mohon maaf kepada para anggota Dewan, DPRD, pada para Pejabat, para petinggi, para elite, juga para tamu undangan yang terhormat nan mulia, saya tidak menyediakan kursi, malah saya mengajak semuanya sama-sama berdiri dua jam di lapangan, tanpa hidangan, minuman dingin nan buah-buahan, camilan, maafkan saya yang tidak memberikan tenda peneduh malahan saya membuat semua tamu undangan yang mulia untuk sama-sama merasakan panas tanpa AC tanpa tenda peneduh," ucap Lucky Hakim saat dihubungi awak media, Senin (17/8/2026).
"Sama-sama kita semua bersama peserta upacara, rakyat yang menonton, para pedagang, para media peliput, para penjaga, semuanya merasakan nikmatnya sinar matahari nan sehat ini, kita serap anugerah ilahi sinar matahari penuh dengan vitamin D," lanjutnya.
Pesan Moral di Balik Terik Matahari
Lahir pada tahun 1978, Lucky menegaskan aksi berdiri berjemur ini sarat akan pesan moral. Ia ingin menyentuh empati para pejabat publik agar mampu merasakan perjuangan fisik masyarakat kecil yang berburu rupiah di tengah musim kemarau.
"Agar kita semua khususnya saya bisa merasakan panas dan terik, seperti rakyat yang berjuang mencari nafkah di musim kemarau nan panas ini," jelasnya.
Melalui momen tersebut, sang bupati menekankan pesan kuat kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) agar senantiasa berorientasi pada kesejahteraan rakyat saat menyusun kebijakan di dalam ruang ber-AC yang nyaman.
"Jadi ketika kita mengambil keputusan-keputusan penting untuk rakyat Indramayu di ruangan ber-AC, duduk di kursi nan nyaman dengan hidangan camilan nikmat, kita akan ingat moment upacara agustusan ini bahwa di luar sana masyarakat juga lelah berdiri, dengan perut yang juga kadang masih lapar tapi harus bekerja di bawah terik matahari," tuturnya.
Sempat Diwarnai Aksi Wanita ODGJ Terobos Upacara
Suasana upacara sempat diwarnai kejadian tak terduga di tengah prosesi pengibaran bendera Merah Putih. Seorang perempuan yang diduga Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mendadak menerobos area upacara dan berupaya mendekati podium kehormatan.
"Tadi saat prosesi pengibaran bendera, tiba-tiba ada ibu-ibu lari masuk ke arah tengah, histeris teriak, enggak tahu mau apa, saya tidak tahu persis dari mana, karena lapangan terbuka untuk umum dan banyak penonton di sekeliling alun-alun, semua peserta sepertinya sedang fokus melihat tiang bendera," beber Lucky.
Petugas keamanan gabungan dengan cepat mengamankan perempuan tersebut secara humanis dan membawanya ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan perawatan.
Lucky Hakim pun mengapresiasi penanganan dari para petugas di lapangan.
"Saya sempat tanya, setelah acara, katanya ODGJ, saya kurang paham, tapi pastinya diamankan secara humanislah, kan mau ODGJ atau tidak, selama tidak membahayakan maka kita perlakukan dengan baik dan selayaknya, kecuali memang misalnya membawa senjata tajam dan akan menyerang mungkin akan diproses lebih lanjut, ya ini ibarat kejutan unik aja hehehe," pungkasnya.
