DKPP Indramayu mencatat 12.800 hektare sawah terdampak kekeringan akibat kemarau panjang, 6.000 hektare terancam gagal tanam. Lumbung pangan nasional terancam.


INDRAMAYU, - Status Kabupaten Indramayu sebagai lumbung pangan nasional kini dalam ancaman serius. Dampak kemarau panjang yang berkepanjangan menyebabkan krisis air meluas di lahan pertanian.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu melaporkan, sedikitnya 12.800 hektare lahan persawahan warga kini terdampak kekeringan.


Wilayah terdampak tersebar di kecamatan sentra pertanian, meliputi Kecamatan Terisi, Cikedung, Kroya, Cikawung, hingga Krangkeng. Di lapangan, petani mengaku kesulitan mengolah lahan karena debit saluran irigasi yang mengering dan minimnya curah hujan.


Kepala DKPP Indramayu, Sugeng Heryanto, mengonfirmasi bahwa dari total lahan terdampak, sebanyak 8.500 hektare telah berstatus waspada.


"Sebanyak 8.500 hektare lahan pertanian warga kini sudah berstatus waspada. Ini menjadi alarm bagi kita semua karena petani sangat bergantung pada saluran irigasi dan air hujan," ujar Sugeng kepada SINARPAGINEWS, Sabtu (15/08/2026).


Lebih memprihatinkan, sekitar 6.000 hektare diantaranya diprediksi akan mengalami puso atau gagal tanam total pada musim tanam kali ini.


Meski dihantam kekeringan, Pemkab Indramayu tetap optimistis mampu mengamankan target produksi gabah kering pungut (GKP) tahun ini di angka 1,6 hingga 1,7 juta ton. Strategi yang ditempuh adalah optimalisasi lahan beririgasi teknis yang masih berfungsi dan pengaturan pola tanam yang efisien.


Kondisi darurat ini membutuhkan penanganan intensif dan pembagian alokasi air yang presisi ke wilayah hilir. Taruhannya adalah stabilitas pasokan beras nasional dan keberlangsungan hidup ribuan keluarga petani Indramayu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama