Jejak MA Sentot dari Plumbon: Sang Komandan Pasukan Setan yang Bikin Belanda Kocar-kacir


INDRAMAYU, - Nama MA Sentot bagi generasi muda Indramayu hari ini mungkin hanya dikenal sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di tepi Jalur Pantura Patrol. Padahal, di balik nama itu tersimpan kisah heroik seorang pejuang yang begitu ditakuti penjajah Belanda.

Dia adalah Kolonel (Purn) Mohammad Asmat Sentot. Lahir di Desa Plumbon, Indramayu, pada 17 Agustus 1925 - tepat di tanggal yang kelak menjadi Hari Kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan anak keempat dari pasangan H. Abdul Kahar dan Hj. Fatimah.

Bagi masyarakat Indramayu, MA Sentot bukan sekadar komandan perang. Ia adalah simbol perlawanan, ketegasan, dan keberanian.

Kisah idealisme sang kolonel itu masih terekam kuat dalam ingatan Saptaguna, penulis buku "Wong Dermayu Ngomong" yang pernah mewawancarai langsung MA Sentot.

Saptaguna menceritakan, sekitar tahun 2000-2001, ia bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam gerakan moral Solidaritas Independen untuk Indramayu (SOLID) merasa gelisah. Indramayu memiliki banyak tokoh hebat, mulai dari tokoh agama, pakar pertanian, hingga pejuang, namun kisahnya terancam hilang ditelan zaman.

"Waktu itu kalau tidak salah tahun 2000 atau 2001, saya dan kawan-kawan melakukan gerakan moral bernama SOLID. Kita (Indramayu) punya tokoh hebat. Itu harus ditulis, harus diabadikan. Misalnya, MA Sentot sebagai pahlawan pejuang yang memimpin pemberontakan," kenang Saptaguna saat ditemui di kediamannya, Selasa (18/8/2026).

Untuk itu, Saptaguna dan kawan-kawan mengetuk pintu kediaman MA Sentot di Desa Sukahaji, Kecamatan Patrol. Tak mudah. Sang legenda ternyata menolak kisahnya ditulis.

Di balik reputasinya yang fenomenal, MA Sentot memegang prinsip tidak mau menyombongkan diri. Perjuangan membela tanah air dianggapnya sebagai sebuah kewajiban, bukan untuk diagungkan di masa tua.

"Beliau orangnya keras dan idealis. Waktu itu kami sempat ditolak sama beliau, rupanya beliau tidak mau ditulis. Berkat bujuk rayu, akhirnya beliau mau," tutur Saptaguna sambil tersenyum.


Pemimpin Pasukan Setan

Ketegasan MA Sentot membuat banyak pihak gentar. Pada masa revolusi fisik, ia memimpin pasukan gerilya yang dijuluki "Pasukan Setan".

Hanya dengan senjata rampasan, pasukan itu bergerilya dari hutan ke hutan, dari satu tempat ke tempat lain, memukul mundur tentara Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Taktik gerilya senyapnya membuat Belanda kocar-kacir dan menderita kerugian besar.

Ada satu prinsip hidup yang selalu dipegang teguh oleh MA Sentot, yang sangat membekas di benak Saptaguna.

"Pokoknya yang tidak benar, saya sikat," ucap Saptaguna menirukan ucapan MA Sentot.

Di bawah komandonya, rakyat Indramayu bangkit melawan. Nama dan sepak terjangnya bahkan tercatat rapi dalam arsip sejarah Belanda di Leiden. Rentetan pertempuran yang ia pimpin tercatat dalam sejarah, mulai dari pemberontakan Kaplongan, Siwatu, Gantar, Bangkir, hingga pertempuran di luar daerah sampai ke Kalimantan.


Menolak Istimewa Setelah Pensiun


MA Sentot pensiun dari kemiliteran pada tahun 1980 dengan pangkat terakhir Kolonel. Berbeda dari perwira kebanyakan, ia memilih jalan sunyi. Ia kembali ke kampung halamannya, menjadi rakyat biasa. Menolak diperlakukan istimewa dan menolak memanfaatkan relasinya untuk jabatan publik.

Pada 6 Oktober 2001, Kolonel (Purn) MA Sentot berpulang di usia 76 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Cikutra, Bandung.

Jasadnya memang telah tiada, namun namanya menolak mati. Kini ia abadi menjadi nama rumah sakit, nama jalan, dan menjadi kebanggaan yang terus hidup di hati Wong Dermayu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama